1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

4 Cara Mengasuh Anak yang Positif

Desain Ruang - Ternyata, ada loh cara mengasuh anak yang positif dan dapat kamu sebagai orang tua jadikan pedoman secara umum. Soalnya, mengasuh anak terdapat banyak sumber serta dasar berbeda.

Saat seorang anak lahir ke dunia ini, jarang-jarang ada buku tutorialnya yang khusus untuk mengasuh. Melahirkan hanya sebuah permulaan, tugas orang tua selanjutnya cukup banyak sampai sang anak benar-benar menjadi pribadi bermanfaat untuk sesamanya. Hidup kamu berbeda 180 derajat dan tidak pernah sama kembali, orang tua mendapatkan amanah dan tanggung jawab besar untuk mendidik anak.

Umumnya dari kita tidak mengetahui jika belajar mengenai bagaimanakah cara jadi orangtua ialah suatu hal yang perlu dan wajib. Karena langkah kamu jadi orangtua pada akhirannya yang bakal tentukan seperti apakah nantinya anak kamu setelah tumbuh dewasa. Sadar atau mungkin tidak, kita membesarkan beberapa anak seperti kita dibesarkan orangtua kita dahulu, dan itu apakah menjadi langkah yang salah atau benar?


Apa Itu Mengasuh Anak yang Positif?

Beberapa tahun awalnya perkembangan seorang anak terpusat ke orang tuanya. Karena itu langkah kamu jadi orangtua berpengaruh langsung pada perubahan mereka, dengan cara sosial dan kognitif. Itu tentukan jalinan yang bakal kamu punyai sama mereka di masa mendatang.

Dalam soal mengasuh anak, tiap orang mempunyai stylenya sendiri, model asuh bisa dikelompokkan jadi empat, berdasar tehnik disiplin ilmu yang dipakai. Pengasuhan positif ialah skema model asuh anak berbasiskan cinta dan kehalusan, dengan memberikan perhatian pada anak dan jaga jalinan baik antar orangtua dan anak, tapi juga dengan memutuskan ketentuan dan batas yang tepat. 

Ternyata, cara mengasuh anak yang positif berlainan dengan pengasuhan pesimis, di mana orangtua tidak memutuskan ketentuan dan batas yang tepat. Beberapa anak memang memerlukan batas supaya mereka belajar disiplin diri dan belajar mengurus tanggung jawabannya secara mandiri. 

Teknik pengasuhan yang positif memungkinkannya kita memutuskan batas yang tegas, tapi dengan sikap hormat dan memperlihatkan empati. Berikut 4 hal khusus yang perlu jadi perhatian saat kamu mengaplikasikan mekanisme pengasuhan yang positif kepada sang buah hati.

  • Jalinan hubungan
  • Kehormatan
  • Empati perasaan
  • Disiplin sikap positif


Penjelasan Cara Mengasuh Anak yang Positif

Cara Mengasuh Anak yang Positif
Cara Mengasuh Anak yang Positif (Src: pexels)

Lantas apa arti masing-masing daripada? Simak penjelasan berikut untuk memahami pengasuhan anak yang dapat kamu terapkan.


Jalinan hubungan

Jadi orang tua, kamu tentu lewat banyak periode susah di masa lalu. Saat beberapa anak tidak dapat tidur karena sakit atau saat mereka tidak dengarkan saat kamu menjelaskan, waktunya tidur, bahkan beberapa ratus kali, atau saat saat beberapa anak kamu berkelahi dan mengeluhkan. Kamu berasa seperti kepala ingin pecah dan ingin marah, bahkan juga kamu berasa ingin menentramkan diri dengan ada di pucuk gunung sendirian tanpa yang menggangu.

Jadi orangtua itu susah, tidak disangsikan kembali. Tetapi yang membuat masih tetap bernilai ialah imbalan hati serta kasih sayang yang kamu punyai. Tidak perduli berapa geram atau patah semangat yang kamu rasakan, kamu ialah pusat dunia untuk beberapa anak saat mereka masih kecil. 

Dan mereka menyukaimu tanpa persyaratan, tidak perduli berapa jelek kamu jadi orang tua (kita mempunyai peristiwa semacam itu). Maka, hubungan kasih sayang antara keduanya mesti orangtua bangun dalam hal yang sederhana, seperti menyuruh tidur, makan, dan sebagainya.


Kehormatan

Mengasuh secara positif dibuat atas dasar sama-sama menghargai. Perlakukan beberapa anak kamu sebagai manusia dan ketahui jika mereka pantas memperoleh rasa hormat seperti orang dewasa yang lain. Jauhi pengasuhan secara otoriter yang amat kasar, seperti berbicara: Kamu harus mendengarkanku karena saya ibumu!!!

Anak ialah manusia seperti kita dan mereka memiliki hak untuk berasa geram, bersedih, khawatir, dan tiap perasaan di hati yang lain memang karakter bawaan manusia. Mereka kadang keras kepala, daripada memberi hukuman atas kekeliruan mereka, coba untuk pahami kenapa mereka keras kepala. 

Pekerjaan kita jadi orang tua ialah menghargai hati itu dan menanggapinya dengan memberikan empati. Sehingga setiap anak akan merasa punya kehormatan atas hidupnya.


Empati perasaan

Beberapa anak mempunyai karakter bawaan untuk orangtua dengar serta rasakan. Bukan hanya beberapa anak, orang dewasa pun memerlukannya. Dalam skema model asuh otoriter, kita menyaksikan jika anak tidak boleh untuk melakukan ekspresikan emosinya. Kami takut saat mereka memperlihatkan amarah dan kami mengaku itu, emosi anak bertambah dalam intensif. 

Saat anak kelihatan kecewa dan kamu memiliki empati sama dia menjelaskan, mengapa kamu kecewa, ia akan menangis lebih intensif dengan suara yang lebih keras. Pernyataan itu tidak perkuat hatinya, tapi saat ia berasa dimengerti, ia merasakan aman untuk melepas hati dan keluh kesahnya yang sesungguhnya berada di dalam dianya.

Bagaimana bila jika kamu mengabaikannya? Cara mengasuh anak yang positif bukan begitu, ia kemungkinan tidak menangis kembali, tapi unek-unek itu berada di dalam perasaan saja, membuat lemahkan jalinan di antara kamu dengan anak, dan akan meledak lebih intensif  untuk marah di lain hari.

Maka beberapa anak, saat mereka mengeluhkan dan bertandang ke kamu dengan permasalahan mereka, yang mereka perlukan ialah hati nyaman orang dewasa yang paling pahami hati mereka dan memiliki empati sama mereka. 

Disiplin sikap positif

Dalam mengasuh anak, perlu sebuah disiplin positif dan itu ada batasnya, tetapi dalam skema asuh kita tidak memakai hukuman, tetapi disiplin yang positif. Study memperlihatkan jika hukuman gagal mengubah anak. Kenyataannya, pukulan dan tipe hukuman keras yang lain berpengaruh langsung pada sikap anak di masa datang.

Hukuman tidak mengajari tentang pelajaran ke beberapa anak, tapi cuman memunculkan ketakutan dalam pemikiran mereka mengenai sumber hukuman, yakni kamu, atau orangtua lain atau pengasuh yang lain. Mengakibatkan, mereka mulai menghindar dan coba lakukan hal sama ada di belakang orangtuanya.

Pada akhirannya, jadi orangtua, yang kamu harapkan untuk beberapa anak kamu ialah membesarkan dan mendidik mereka sebagai manusia yang bagus yang sanggup hadapi dunia dan mempunyai jalinan yang bagus dengan kamu di mana saja mereka ada. Hukuman mengakibatkan sikap agresif pada anak, karena itu yang mereka saksikan dan alami. 


Kesimpulan

Kadang kita memakai hukuman untuk mendisiplinkan beberapa anak karena hasilnya bisa lebih cepat. Kita sanggup diamkan anak dengan gertakan, memberikan ancaman atau memukul, dibanding bila kita bermasalah sama mereka memakai disiplin positif.

Disiplin positif dan skema asuh yang positif, tidak seperti skema asuh tradisionil, memerlukan banyak usaha dan kesabaran. Tapi argumen beberapa orang tua cenderung pilih skema asuh yang positif ialah, hasilnya lebih optimal dan bertahan di dalam periode panjang.

Disiplin positif fokus pada edukasi sikap yang bagus dan hadapi kekeliruan dengan disiplin dan kebaikan yang halus. Berlainan dengan anak yang dijatuhi hukuman karena kekeliruannya, anak yang dibesarkan dengan skema cara mengasuh anak yang positif, berasa lebih tersambung perasaan sama orang tuanya di mana saja berada.

Baca Juga:

Baca Juga:

Posting Komentar